Selasa, 17 November 2015

JSC Bedak Konsep Kalender islam Internasional




Metro, Pojoksamber.com- Senin sore (16/11) Jurai Siwo Corner (JSC) menggelar bedah pemikiran Muhammad Ilyas tentang Kalender Islam Internasional. Materi disampaikan oleh Syakirman, MSI yang merupakan dosen STAIN Jurai Siwo Metro.
Mengawali materi, Syakirman berbicara tentang sepinya budaya melingkar di kota Metro terutama di kampus-kampus. Padahal, kampus seharusnya sebagai lahan subur tumbuh kembang budaya intelektual. “Jurai Siwo Corner ini sebagai pioner budaya intelektual di STAIN”, Ujar Syakir kepada pojoksamber.com
Berbicara tentang kalender Islam, di Indonesia belum ada kata sepakat dari masing-masing ormas keagamaan untuk membuat satu kalender sebagai pedoman. Masih terjadi perbedaan dalam penentuan hari-hari penting dalam ritual keagamaan seperti penentuan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah.
Perbedaan ini, lanjut Syakir, disebabkan oleh perbedaan paradigma, pandangan, metodologi dalam penentuan kalender Islam. Ada yang menggunakan metode melihat hilal atau metode hisab. Wajar jika kemudian akan ada perbedaan-perbedaan, tetapi jangan sampai perbedaan itu memecah umat Islam di Indonesia.
Perbedaan memang sudah menjadi keniscayaan, tetapi jika perbedaan dalam penentuan tanggal atau kalender dipengaruhi ratik menarik kepentingan, baik politik, sosial atau ekonomi maka ini yang menjadi masalah baru, terang Syakir.
Oleh karena itu, Muhammad Ilyas ilmuan asal malaysia menawarkan univikasi kalender internasioanl. Mohammad Ilyas memperkenalkan konsep Garis Tanggal Kamariah Antar Bangsa (International Lunar Date Line). Garis tersebut dihubungkan antar wilayah guna mendapatkan keseragaman hilal. Mohammad Ilyas membagi bumi menjadi tiga zona kalender yaitu benua Amerika, Eropa dan Asia-Paific.
Konsep Kalender Islam Internasional Mohammad Ilyas masih terkendala pada Garis Tanggal Kamariah Antar Bangsa (International Lunar Date Line) yang bersifat tidak tetap setiap bulannya. Kondisi ini berbeda dengan garis tanggal dalam Kalender Masehi yang menggunakan penanggalan Matahari. Garis tanggal dalam kalender ini disepakati pada bujur 180°. Pendefinisian masalah hari untuk memulai tanggal satu dalam Kalender Islam juga masih terkesan rancu, selama ini pergantian hari pada Kalender Masehi dimulai pukul 00.00, sedangkan dalam Kalender Hijriah dimulai setelah Magrib.
“Walaupun masih terjadi kendala, sebagai intelektual ada tanggung jawab untuk melanjutkan”. Kemudian diskusi di tutup dengan kutipan dari Muhammad Ilyas “…Dunia Islam akan Menemukan Seorang Julian Untuk Menyatukan takwimnya”.
Penulis: Lukman Hakim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar