Metro, Pojoksamber.com- Senin sore (16/11) Jurai
Siwo Corner (JSC) menggelar bedah pemikiran Muhammad Ilyas tentang Kalender Islam
Internasional. Materi disampaikan oleh Syakirman, MSI
yang merupakan dosen STAIN Jurai Siwo Metro.
Mengawali materi, Syakirman berbicara tentang
sepinya budaya melingkar di kota Metro terutama di kampus-kampus. Padahal,
kampus seharusnya sebagai lahan subur tumbuh kembang budaya intelektual. “Jurai
Siwo Corner ini sebagai pioner budaya intelektual di STAIN”, Ujar Syakir kepada
pojoksamber.com
Berbicara tentang kalender Islam,
di Indonesia belum ada kata sepakat dari masing-masing ormas keagamaan untuk
membuat satu kalender sebagai pedoman. Masih terjadi perbedaan dalam penentuan
hari-hari penting dalam ritual keagamaan seperti penentuan awal Ramadhan,
Syawal dan Zulhijjah.
Perbedaan ini, lanjut Syakir, disebabkan oleh
perbedaan paradigma, pandangan, metodologi dalam penentuan kalender
Islam. Ada yang menggunakan metode melihat hilal atau metode
hisab. Wajar jika kemudian akan ada perbedaan-perbedaan, tetapi jangan sampai
perbedaan itu memecah umat Islam di Indonesia.
Perbedaan
memang sudah menjadi keniscayaan, tetapi jika perbedaan dalam penentuan tanggal
atau kalender dipengaruhi ratik menarik kepentingan, baik politik, sosial atau
ekonomi maka ini yang menjadi masalah baru, terang Syakir.
Oleh karena itu, Muhammad Ilyas ilmuan asal
malaysia menawarkan univikasi kalender internasioanl. Mohammad Ilyas
memperkenalkan konsep Garis Tanggal Kamariah Antar Bangsa (International
Lunar Date Line). Garis tersebut dihubungkan antar wilayah guna
mendapatkan keseragaman hilal. Mohammad Ilyas membagi bumi menjadi tiga zona
kalender yaitu benua Amerika, Eropa dan Asia-Paific.
Konsep Kalender Islam Internasional
Mohammad Ilyas masih terkendala pada Garis Tanggal Kamariah Antar Bangsa (International
Lunar Date Line) yang bersifat tidak tetap setiap bulannya. Kondisi ini
berbeda dengan garis tanggal dalam Kalender Masehi yang menggunakan penanggalan
Matahari. Garis tanggal dalam kalender ini disepakati pada bujur 180°.
Pendefinisian masalah hari untuk memulai tanggal satu dalam Kalender
Islam juga masih terkesan rancu, selama ini pergantian
hari pada Kalender Masehi dimulai pukul 00.00, sedangkan dalam Kalender Hijriah
dimulai setelah Magrib.
“Walaupun masih terjadi kendala, sebagai
intelektual ada tanggung jawab untuk melanjutkan”. Kemudian diskusi di tutup
dengan kutipan dari Muhammad Ilyas “…Dunia Islam akan Menemukan Seorang Julian
Untuk Menyatukan takwimnya”.
Penulis:
Lukman Hakim

Tidak ada komentar:
Posting Komentar